DONT JUDGE SOMEONE BEFORE YOU GET KNOW HIM

Sabtu, 28 April 2012

buku paling tebal di dunia



Kalau kita menjumpai buku setebal ini, pasti kita akan tertunduk lesuh dan malas membacanya. Bagaimana tidak, biasanya kita akan jenuh membaca buku terlalu lama, apalagi tidak dilengkapi dengan gambar. Apalagi paling tebal di dunia ini. Buku wikipedia ini berjumlah lebih dari 5000 lembar halaman. Buku ini di buat oleh Rob Mathew. Ia membuat buku ini dari ringkasan artikel wikipedia dan kemudian mencetak dan menjilidnya menjadi sebuah buku setebal ini. Kalau di letakkan, buku ini setinggi 47.5 centimeter dan berjumlah lebih dari 5000 halaman.

Meskipun setebal ini, Rob mengaku hanya mengisi 0,01% dari seluruh artikel wikipedia. Bagaimana ya kalau semua artikel di cantumkan semua? Buku ini akhirnya terkenal sebagai buku paling tebal di dunia.
sumber : ceriwis.us

Kenapa Kita Butuh Mimpi Dalam Tidur?


Orang mengatakan waktu dapat menyembuhkan semua luka. Itu ternyata ada benarnya. Riset terbaru dari University of California, Berkeley, mengindikasikan bahwa lamanya waktu bermimpi ketika tidur dapat mengatasi penderitaan yang menyakitkan.
Peneliti UC Berkeley menemukan bahwa, selama fase mimpi dalam tidur, atau tidur rapid eye movement (REM), yaitu ketika bola mata bergerak cepat saat tidur, zat kimia stres dipadamkan dan otak memproses pengalaman emosional dan mengikis memori yang menyakitkan.

Temuan ini menawarkan sebuah penjelasan yang menarik soal mengapa orang yang menderita kelainan stres pasca-kejadian traumatis, seperti veteran perang, menemui kesulitan untuk pulih dari pengalaman yang membuatnya tertekan dan berulang kali dihantui mimpi buruk. Penelitian ini juga menawarkan jawaban mengapa kita bermimpi.

"Tahap mimpi tidur, berdasarkan komposisi neurokimianya yang unik, memberikan semacam terapi sepanjang malam, sejenis balsam menenangkan yang membuang semua hal yang tajam dari pengalaman emosional pada hari sebelumnya," kata Matthew Walker, dosen psikologi dan neuroscience di universitas itu yang terlibat dalam studi yang dipublikasikan dalam jurnal Current Biology.

Bagi penderita stres pasca-peristiwa traumatis, terapi malam ini mungkin tidak bekerja secara efektif. "Sehingga ketika kilas balik, misalnya dipicu oleh ban mobil meletus, mereka mengalami kembali seluruh pengalaman mengerikan itu karena emosinya tidak disingkirkan dari memori dengan benar selama tidur," kata Walker.

Hasil studi ini menawarkan berbagai informasi tentang fungsi emosional tidur REM, yang biasanya mencakup 20 persen dari waktu tidur seorang manusia sehat. 

Studi otak sebelumnya mengindikasikan bahwa pola tidur sehat itu tidak berjalan sebagaimana mestinya pada orang yang menderita kelainan seperti trauma dan depresi.
 sumber : http://terselubung.blogspot.com